Materi KWU BAB II Budidaya Tanaman Hias
BAB II
Budidaya Tanaman Hias
A.
Mengenal Budidaya Tanaman Hias
Budidaya tanaman hias adalah suatu
kegiatan dalam mengembangkan tanaman hias mulai dari proses menanam, merawat
hingga panen.
Fungsi tanaman hias
-sebagai keindahan
-memupuk hobi
-mengurangi polusi udara
- menyerap racun
-melestarikan SDA
-bahan baku kosmetik/industri
-menambah lapangan kerja
-menambah penghasilan
-menghilangkan stres
-sebagai keindahan
-memupuk hobi
-mengurangi polusi udara
- menyerap racun
-melestarikan SDA
-bahan baku kosmetik/industri
-menambah lapangan kerja
-menambah penghasilan
-menghilangkan stres
Faktor – faktor yang mempengaruhi perputaran produk tanaman hias
-jenis tanaman hias yang diusahakan
-penambahan konsumen
-inovasi jenis tanaman hias
-tingkat pengetahuan
Jenis – jenis tanaman hias dilihat dari segi
-daun
-bunga
-batang
B.
Cara Memperbanyak
Tanaman Hias
Sama
seperti makhluk hidup lainnya, tanaman hias juga melakukan perkembangbiakan.
Perkembangbiakan ini bertujuan untuk melestarikan keturunannya. Tetapi seiring
dengan perkembengan zaman, manusia bertambah banyak sehingga sebahagian besar
tanaman tidak bisa melakukan pelestarian. Hal ini di karenakan lahan semangkin
sempit, sudah habis untuk bangunan kepentingan manusia dan beberapa tanaman
menjadi terabaikan, ataupun punah dan menjadi langkah atau sulit untuk
mendapatkannya.
Karena
hal tersebut beberapa hobis tanaman hias sudah mulai melestarikannya kembali
dengan cara memperbanyak tanaman hias. Memperbanyak tanaman hias untuk
mendapatkan varietas baru atau sekedar menambah koleksi, dapat dilakukan dengan
dua cara, yaitu cara generatif (melalui perkawinan) dan vegetatif (tanpa
perkawinan).
Masing
– masing cara mempunyai jenis dan langkah berbeda, serta kelebihan dan
kelemahannya masing- masing. Sebelum memilih cara apa yang akan kita gunakan
untuk memperbanyak tanaman hias, apakah sekedar memperbanyak saja untuk
mendapatkan sifat yang sama dengan induknya atau memang ingin mendapatkan
varietas baru yang sifat keturunannya berbeda dari induknya. Agar anda tidak
salah memilihnya, berikut penjelasan kedua cara memperbanyak adenium.
1.Cara Generatif
Perbanyakan
secara generatif adalah perbanyakan tanaman melalui perkawinan sel - sel
reproduksi. Untuk tanaman hias yang
berbunga, melakukan reproduksi dengan cara mem-
bentuk biji yang diperoleh dari penyerbukan benang sari sebagai sel
jantan dan kepala putik sebagai sel betinanya.
Penyerbukan pada tanaman bunga
bisa berhasil bila ada perantara (Self
incomatible). Umumnya perantaranya adalah serangga seperti lebah. Kaki
lebah yang hinggap pada bunga yang sedang berkembang secara tidak sengaja akan
menempel pada benang sari. Setelah itu lebah akan terbang lagi ke bunga lain.
Pada saat dia hinggap di bunga lain maka benang sari yang menempel pada kaki
lebah bisa jatuh pada putik bunga. Benang sari dan putik yang saling menempel
ini bisa mengakibatkan terjadinya pembuahan yang menghasilkan biji.
Proses
tersebut adalah proses penyerbukan alami. Kelemahannya selain membutuhkan waktu
yang lama juga kita tidak tahu sifat dari bunga induknya. Untuk mempercepat proses
penyerbukan, bisa menggunakan penyerbukan buatan / manual dengan bantuan tangan
manusia.
Caranya adalah dengan mengambil benang sari pada bunga yang akan
disilangkan lalu ditempelkan pada putik adenium jenis lain yang memiliki
genetik yang berbeda dengan menggunakan alat (cutten bud) . Untuk melakukannya perlu ketelitian agar berhasil,
jika penyerbukan berhasil maka dalam waktu kurang lebih 2 minggu akan tumbuh
sepasang buah yang berbentuk tanduk dan berwarna hijau.
Setelah buah matang, yang ditandai dengan pecahnya buah, segera ambil
biji di dalam buah sebelum hilang tertiup angin. Jemur biji hingga 2-3 jam atau
sampai biji kering. Selanjutnya semai biji pada media tanam (sekam bakar di
campur dengan pasir dengan komposisi 1 :
1).Bila dapat tumbuh (mulai bertunas) setelah lebih dari 2 minggu. Dengan
tumbuhnya tunas ini berarti proses perbanyakan berhasil.
Tips.
Bila akan menyilangkan tanaman hias bunga, pilihlah bunga yang telah berumur antara 2-5 hari untuk
bunga betinanya , dan 3-7 hari untuk bunga jantaannya. Hal ini agar sel-sel
produksinya cukup kuat untuk melakukan penyerbukan. Ciri-ciri sel jantan yang
cukup umur adalahserbuk pada benang sari
sudah kering dan sudah menggumpal.
Agar
mudah memperoleh benang sari dan menempelkannya pada putik, buka daun hingga
terlihat dasar bunganya. Setelah itu ambil benang sari menggunakan pinset stau
kuas yang halus. Tempelkan benang sari itu pada putik lalu bungkus bunga yang
menjadi bunga betinanya agar proses penyerbukan bersih dan steril.
Kelebihan
dari cara generatif adalah :
1.
Diperoleh hasil anakan yang banyak karena jumlah biji di dalam buah banyak,
sehingga mudah di semai.
2.
Sifat anaknya merupakan gabungan sifat unggul
yang sesuai dengan sifat masing –
masing bunga induknya.
3.
Cocok untuk mendapatkan varietas adenium baru atau disebut dengan nama
adenium hibrida.
Kekurangan dari cara generatif adalah :
1. Memerlukan waktu yang lama.
2.
Tingkat kegagalan tinggi.
3
.Pelaksanaannya rumit.
4.
Daya hidup rendah.
2.Cara Vegetatif
Perbanyakan vegetatif
adalah perbanyakan tanaman tidak melalui perkawinan sel-sel, tetapi dengan
menumbuhkan jaringan – jaringan vegetatif atau kultur jaringan seperti akar,
daun, batang, atau mata tunas.
Perbanyakan adenium
yang umum dilakukan adalah dengan menyambung, stek dan cangkok batang. Menurut
Slamet Budiarto (Field Manager Ijo Nurcery), jenis sambung menggunakan batang
(grafting) adalah jenis yang banyak dilakukan. Grafting dilakukan dengan cara
menggabungkan batang bawah dengan batang atas dari adenium yang berlainan.
Selain grafting, stek juga mudah dan sering dilakukan untuk memperbanyak
adenium tanpa menggabungkan sel-sel reproduksi. Cara ini dilakukan dengan
memotong batang dari induk yang sehat, lalu ditanam pada media tanam. Untuk
memilih batang yang sehat, pilihlah batang yang mempunyai diameter minimal 2 cm
dan bukan berasal dari batang utama.
Setelah ditanam kurang lebih 2 minggu, baru batang
tersebut akan mengeluarkan tunas.Ini berarti stek berhasil dilakukan. Cara
perbanyakan vegetatif ada banyak yaitu:
1. Stek (mawar,
melati, asoka, dll)
2. Pemisahan anakan (palem, aglaonema, sansievera,
cocor bebek)
3. Mengambung / grafting (bougenvile, adenium, puring,
ficus)
4. Menempel / okulasi (mawar, beringin, puring)
5. Penyusuan (meningkatkan keberhasilan sambung pucuk)
6. Keiki (Anggrek)
7. Mencangkok / cangkok ruduk (aglaunema, puring,
dieffenbaciha)
8. Kultur jaringan (anggrek, piludendrom)
a. Perkembangan Dengan Kultur Jaringan
Teknik
kultur jaringan merupakan perbanyakan
tumbuhan secara invitro. Perbanyakan secara
invitro adalah peneneman jaringan atau organ tubuhan di luar lingkungan
tumbuhnya.
Melalui kultur jaringan ini, jaringan tumbuhan diambil sedikit, lalu
ditumbuhkan dalam media buatan sehingga tumbuh menjadi tanaman sempurna. Kultur
jaringan dilakukan pada perinsip totipotensi.
Menurut prinsip totipotenrosi
setiap sel tumbuhan mengandung setiap informasi genetik yang diperlukan
untuk tumbuh dan berkembang menjadi tanaman lengkap.
Teknik
kultur jaringan tidak dapat dilakukan di sembarang tempat. Teknik ini harus
dilakukan di dalam ruangan khusus yang steril agar terbebas dari kontaminasi
udara luar. Kultur jaringan dilakukan di dalam suatu labolatorium khusus yang
di gunakan untuk kultur jaringan. Labolatorium berfungsi untuk mengkondisikan
kultur dalam suhu dan pencahayaan terkontrol yang dilengkapi dengan alat dan
bahan untuk pembuatan media.
Pada
dasarnya tumbuh – tumbuhan memiliki daya regenerasi yang kuat. Dasar inilah
yang akhirnya menjadi titik tolak berkembangnya industri perbanyakan (propagasi) tanaman.
Bila
sel-sel jaringan atau organ tanaman di luar lingkungan tumbuhan (ini) dengan
menggunakan larutan bahan makanan larutan bahan makanan sintentik ternyata
dapat bergenerasi menjadi tunas dan akar yang selanjutnya dapat berkembang
menjadi tanaman normalyang mampu hidup mandiri menjadi tanaman yang utuh.
1. Langkah – Langkah Teknik Kultur Jaringan
Kultur
jaringan tumbuhan dapat dilakukan dengan langkah seperti berikut :
1.
Menyiapkan media tumbuh yang terdiri atas campuran garam mineral berisi unsur
makro
dan mikro, asam ammio, vitamin, gula, serta hormon tumbuhan dengan
perbandingan tertentu.
2. Siapkan
eksplan (jaringan yang akan di kultur). Misalnya eksplan berupa potongan dari
akar
tanaman tertentu.
3.
Tanamkan eksplan pada media yang telah di siapkan.
4. Setelah
terbentuk calon tumbuhan (akar, tunas) maka dipindahkan ke media tanah untuk
tumbuh menjadi tanaman dewasa.
2. Masalah (gangguan) pada Kultur Jaringan
Gangguan
kultur jaringan dapat menyebabkan kematian eksplan. Gangguan kultur jaringan
secara umum dapat muncul dari bahan
yang di tanam, lingkungan kultur maupun manusia yang melakukannya. Masalah yang
muncul antara lain adalah :
1.
Kontaminasi oleh bakteri, jamur, virus dan lain - lain. Agar terhindar dari
kontaminasi maka langkah-langkah
pelaksanaannya harus mengikuti prosedur yang benar dan dalam keadaan
steril.
2.
Browning (pencoklatan), untuk mengatasinya dengan cara mengabsorbi fenol
penyebab
pencoklatan dengan arang aktif.
3. Kelebihan dan Kelemahan Teknik Kultur Jaringan
Perbanyakan
tanaman secara kultur jaringan mempunyai kelebihan dan kekurangan. Berikut
ini adalah kelebihannya :
1. Kultur
jaringan merupakan suatu cara menghasilkan jumlah bibit tanaman yang banyak
dalam
waktu singkat sehingga lebih memiliki nilai ekonomis.
2. Tidak
memerlukan tempat yang luas.
3. Tidak
tergantung pada musim, sehingga bisa dilaksanakan sepanjang tahun.
4. Bibit
yang dihasilkan lebih sehat.
5.
Memungkinkan dilakukannya manipulasi genetik.
Dengan metode kultur jaringan dapat dihasilkan jumlah
bibit tanaman dalam skala besar dan dalam waktu relatif singkat sehingga lebih
memiliki nilai ekonomis. Dari kelebihan ini kita bisa belajar mengkultur
tanaman yang bernilai jual dengan benar sehingga dapat di manfaatkan sebagai
sumber pendapatan.
Sedangkan kekurangan teknik ini adalah :
1.
Membutuhkan biaya besar karena harus dilakukan di dalam labolatorium dan
menggunakan bahan kimia.
2.
Membutuhkan keahlian khusus.
3.
Membutuhkan aklimatisasi ke lingkungan eksternal karena tanaman hasil kultur
biasanya
berukuran kecil dan bersifat aseptik
serta sudah terbiasa berada di tempat yang mem -
punyai kelembaban udara tinggi.
b. Media Tanam Tanaman Hias
Tanaman hias merupakan salah satu
komoditas agribisnis yang cukup berarti di Indonesia karena jenis ini dapat di
tanam pada areal yang relatif sempit, mempunyai nilai ekonomi tinggi dan
diterima masyarakat. Berbeda dengan tanaman pangan, tanaman hias dinikmati
konsumen dalam bentuk keindahannya.
Oleh
karena itu tuntutan terhadap kualitas sangat tinggi. Sehingga teknologi
budidaya perlu mendapatkan penanganan yang baik. Media tanam merupakan salah
satu teknologi yang perlu mendapatkan perhatian.
Media
tanam adalah media yang digunakan untuk menumbuhkan tanaman / bahan tanaman,
tempat akar atau bakal akar akan tumbuh dan berkembang. Media tanam juga
digunakan tanaman sebagai tempat berpegangnya akar, agar tajuk tanaman dapat
tegak kokoh berdiri di atas media tersebut dan sebagai sarana untuk menghidupi
tanaman. Tanaman mendapatkan makanan yang diperlukan untuk pertumbuhan dan
perkembangannya dengan cara menyerap unsur unsur hara yang terkandung di dalam
media tanam.
Media
tanam merupakan komponen utama ketika akan bercocok tanam. Media tanam yang
akan digunakan harus disesuaikan dengan jenis tanaman yang ingin ditanam.
Menentukan media tanam yang tepat dan
standar untuk jenis tanaman yang berbeda habitat asalnya merupakan hal
yang sulit. Hal ini di karenakan setiap daerah memiliki kelembapan dan
kecepatan angin yang berbeda. Secara umum media tanam harus dapat menjaga
kelembapan daerah sekitar akar, menyediakan cukup udara, dan dapat menyediakan
ketersediaan unsur hara.
Jenis media tanam yang digunakan pada
setiap daerah tidak selalu sama. Di Asia Tenggara misalnya , sejak tahun 1940
menggunakan media tanam berupa pecahan batu bata, arang, sabut kelapa atau
batang pakis. Bahan-bahan tersebut juga
tidak hanya digunakan secara tunggal,
tetapi bisa di kombinasikan antara bahan satu dengan lainnya. Misalnya pakis
dicampur dengan perbandingan tertentu hingga menjadi media tanam baru. Pakis
juga bisa dicapur dengan pecahan batu bata.
Untuk
mendapat media tanam yang baik dan sesuai dengan jenis tanaman yang akan
ditanam, seorang hobis harus miliki pemahaman mengenai karakteristik media
tanam yang mungkin berbeda-beda dari setiap jenisnya. Berdasarkan jenis bahan
penyusunnya, media tanam dibedakan menjadi bahan organik (sisa-sisa makhluk
hidup) dan anorganik. Contoh media tanam dari bahan organik adalah kompos daun
bambu, kompos daun akasia, kompos tandan kosong kelapa sawit, serutan kayu,
sekam padi, bagas tebu, serbuk sabut kelapa, tempurung kelapa sawit, akar
pakis. Sedangkan yang berasal dari bahan anorganik adalah seperti tanah ,
pasir, batu apung, zeolit, styroform, perlite,vermiculite, rocwool, styrofoam,
beads. Disini akan dibahas sifat-sifat dari beberapa media tanam diatas.
A. Bahan Organik
Media tanam yang termasuk dalam kategori bahan
organik umumnya berasal dari komponen organisme hidup, misalnya bagian dari
tanaman seperti daun, batang, bunga, buah, atau kulit kayu. Penggunaan bahan
organik seperti media tanam jauh lebih unggul dibandingkan bahan anorganik. Hal
itu dikarenakan bahan organik sudah mampu menyediakan unsur-unsur hara bagi
tanaman. Selain itu bahan organik juga memiliki pori-pori mkro dan mikro yang
hampir seimbang sehigga sirkulasi udara yang dihasilkan cukup baik serta memiliki
daya serap yang tinggi.
Bahan
organik akan mengalami proses akan mengalami proses pelapukan atau dekomposisi
yang dilakukan oleh mikroorganisme. Melalui proses tersebut, akan di hasilkan
karbondioksida (C2O), air (H2O), dan mineral. Mineral
yang dihasilkan merupakan sumber unsur hara yang dapat diserap tanaman sebagai
zat makanan. Namun, proses dekomposisi yang terlalu cepat dapat memicu
kemunculan bibit penyakit. Untuk menghindarinya, media tanam harus sering
diganti. Oleh karena itu, penambahan unsur hara sebaiknya harus tetap diberikan
sebelum bahan media tanam tersebut mengalami dekomposisi
Beberapa jenis bahan organik yang dapat dijadikan sebagai media tanam,
diantaranya arang, arang sekam, cacahan pakis, kompos,
moss, sabut kelepa (cocopeat), pupuk kandang, dan humus.
1. Arang
Arang
bisa berasal dari kayu atau batok kelapa. Media tanam ini sangat cocok
digunakan untuk tanaman anggrek di daerah dengan kelembapan tinggi. Hal itu
dikarenakan arang kurang mampu mengikat air dalam jumlah banyak. Keunikan dari
media jenis arang adalah sifatnya yang bufer (penyangga). Dengan demikian, jika
terjadi kekeliruan dalam pemberian unsur hara yang terkandung di dalam pupuk
bisa segera dinetralisir dan di adaptasikan
Selain
itu, bahan media ini juga tidak midah lapuk sehigga sulit ditumbuhi jamur atau
cedawan yang dapat merugikan tanaman. Namun media arang cenderung miskin akan
unsur hara. Oleh karenanya, ke dalam media tanaman ini perlu di suplai unsur
hara berupa aplikasi pemupukan.
Sebelum digunakan sebagai media tanam, idealnya arang di pecah menjadi
potongan-potongan kecil terlebih dahulu sehinnga memudahkan dalam penempatan di
dalam pot. Ukuran pecahan arang ini sangat bergantung pada wadah yang digunakan
untuk menanam serta jenis tanaman yang akan ditanam. Untuk mengisi wadah yang
memiliki diameter 15 cm atau lebih, umumnya digunakan pecahan arang yang
berukuran panjang 3 cm, lebar 2-3 cm dan dengan ketebalan 2-3 cm. Untuk wadah
(pot) yang lebih kecil, ukuran pecahan arang juga harus yang kecil.
2. Arang Sekam
Sekam
padi adalah kulit biji padi (Oryza sativa) yang sudah digiling. Sekam padi yang
biasa digunakan bisa berupa sekam bakar atau sekam mentah (tidak dibakar).
Sekam bakar dan sekam mentah memiliki tingkat porositas yang sama. Sebagai
media tanam, keduanya berperan penting dalam perbaikan struktur tanah sehingga
sistem aerasi dan drainase di media tanam menjadi lebih baik.
Penggunaan sekam bakar untuk media tanam tidak perlu disterilisasi lagi
karena mikroba patogen telah mati selama proses pembakaran. Selain itu, sekam
bakar juga memiliki kandungan karbon (C) yang tinggi sehingga membuat media
tanam ini menjadi gembur. Namun, sekam bakar cederung mudah lapuk
Sementara kelebihan dari sekam
mentahsebagai media tanam yaitu mudah mengikat air, tidak mudah lapuk,
merupakan sumber kalium (K) yang
dibutuhkan tanaman, dan tidak mudah menggumpal atau memadat sehingga akar
tanaman dapat tumbuh dengan sempurna. Namun, sekam padi mentah cederung miskin
akan unsur hara.
Arang
sekam mempunyai karakteristik ringan (berat jenis 0,2 kg/l), kasar sehingga
sirkulasi udara tinggi, kapasitas menahan air tinggi, berwarna hitam sehingga
dapat mengasorbi sinar matahari dengan efektif. Rongganya banyak sehingga
akan menyebabkan aerasi dan
drainase yang baik, sehingga akar mudah
bergerak diantara butiran arang sekam tersebut.
Arang
sekam bersifat absorben atau mudah menyerap. Jadi mungkin saja akan memfiksasi
atau menyerap pupuk anorganik yang diberikan, sehingga tidak tersedia bagi
tanaman. Untuk menghindari hal tersebut, arang sekam perlu disiram dengan
larutan pupuk anorganik sampai jenuh. Penyiraman tersebut juga berarti
penjenuhan kandungan air, mengingat arang bersifat higroskopis (mudah menyerap
air) sehingga akan menyebabkan akar tanaman menjadi kering bila tidak dijenuhi
dengan air terlebih dahulu. Arang sekam telah steril, karena saat pembuatannya
telah mendapat panas yang tinggi dari proses pembakaran.
Sekam
padi harganya murah, ringan, drainase dan aerasinya bagus, tahan dekomposisi,
dapat digunakan dalam bentuk segar maupun dibakar yang dikenal dengan arang
sekam. Sekam padi dalam bentuk arang lebih di sarankan. Sekam padi tidak
mempengaruhi PH larutan garam atau ketersediaan unsur hara (N dan K). Sekam
kulit padi bila digunakan dalam bentuk segar sebaiknya dikomposkan terlebih
dahulu. Dengan pengomposan, sisa-sisa gabah juga akan mati, sehingga
menghilangkan potensi tumbuhnya gulma yang berupa sekam padi. Sekam tersebut
mengandung unsur silikat, yang walau agak sulit diserap oleh akar tanaman,
mempunyai pengaruh baik dalam penguatan sel dan jaringan, sehingga tanaman
mempunyai daya tahan terhadap jamur dan sebagainya.
3. Batang Pakis
Berdasarkan
warnanya, batang pakis dibedakan menjadi 2, yaitu batang pakis hitam dan batang
pakis cokelat. Dari kedua jenis tersebut, batang pakis hitam lebih umum
digunakan sebagai media tanam. Batang pakis hitam berasal dari tanaman pakis
yang sudah tua sehingga lebih kering. Selain itu batang pakis ini pun mudah di
bentuk menjadi potongan kecil dan dikenal sebagai cacahan pakis.
Selain
dalam bentuk cacahan, batang pakis juga banyak di jual sebagai media tanam siap
pakai dalam bentuk lempengan persegi empat. Umumnya, bentuk lempengan batang
pakis ini adalah saling dihuni oleh semut atau binatang-binatang kecil lainnya.
Karakteristik yang menjadi keunggulan media batang pakis lebih di
karenakan sifat-sifatnya yang mudah mengikat air, memiliki aerasi dan drainase
yang baik serta bertekstur lunak sehingga mudah ditembus oleh akar tanaman.
4. Kompos
Kompos
merupakan media tanam organik yang bahan dasarnya berasal dari proses
fermentasi tanaman atau limbah organik, seperti jerami, sekam, daun, rumput dan
sampah kota.
Kandungan bahan organik yang tinggi dalam kompos sangat penting untuk
memperbaiki kondisi tanah. Berdasarkan hal tersebut di kenal 2 peranan kompos
yakni soil conditioner dan soil ameliator. Soil conditioner yaitu peranan
kompos dalam memperbaiki struktur tanah, terutama tanah kering, sedangkan soil
amerirator berfungsi dalam memperbaiki kemampuan tukar kation pada tanah.
Kompos
yang baik untuk digunakan sebagai media tanam yaitu yang telah mengalami
pelapukan secara sempurna, ditandai dengan I IL, rubahnya warna dari bahan
pembentuknya (hitam kecokelatan), tidak berbau, memiliki kadar air yang rendah
dan memiliki suhu ruang.
5. Moss
Moss
yang dijadikan sebagai media tanam berasal dari akar paku-pakuan, atau kadaka
yang banyak dijumpai di hutan-hutan. Moss sering digunakn sebagai media tanam
untuk masa penyemaian sampai dengan masa pembungaan .Media ini mempunyai banyak
rongga sehingga memungkinkan akar tanaman tumbuh dan berkembang dengan leluasa.
Menurut sifatnya, media moss mampu mampu mengikat air denga baik serta memiliki
sistem drainase dan airasi yang lancar. Untuk hasil tanaman yang optimal,
sebaiknya moss di kombinasikan dengan media tanam organik lainnya, seperti
kulit kayu, tanah gambut atau daun-daunan kering.
6. Pupuk Kandang
Pupuk
organik yang berasal dari kotoran hewan disebagai pupuk kandang. Kandungan
unsur haranya yang lengkap seperti natrium (N), fosfor (P), dan kalium (K)
membuat pupuk kandang cocok untuk dijadikan sebagai media tanam. Unsur-unsur
tersebut penting untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Seain itu, pupuk
kandang memiliki kandungan mikroorganisme yang diyakini mampu merombak bahan
organik yang sulit dicerna tanaman
menjadi komponen yang lebih mudah untuk diserap oleh tanaman.
Komposisi kandungan unsur hara pupuk kandang sangat dipengaruhi oleh
beberapa faktor, antara lain jenis hewan, umur hewan, keadaan hewan, jenis
makanan, bahan hamparan yang di pakai, perlakuan, serta penyimanan sebelum di
aplikasikan sebagai media tanam.
Pupuk
kandang yang akan digunakan sebagai media tanam harus sudah matang dan steril.
Hal itu di tandai dengan warna pupuk yang hitam pekat. Pemilihan pupuk kandang
yang sudah matang bertujuan untuk mencegah munculnya bakteri atau cendawan yang
dapat merusak tanaman.
7. Sabut Kelapa
Sabut kelapa atau coco peat merupakan bahan organik
alternatif yang dapat digunakan sebagai media tanam. Sabut kelapa untuk media
tanam ini berasal dari buah kelapa tua karena memiliki serat yang kuat.
Penggunaan sabut kelapa sebagai media tanam sebaiknya di lakukan di
daerah yang bercurah hujan rendah. Air hujan yang berlebihan dapat menyebabkan
media tanam ini mudah lapuk. Selain itu, tanaman pun jadi cepat membusuk
sehingga bisa menjadi sumber penyakit. Untuk mengatasi pembusukan, sabut kelapa
perlu di rendan terlebih dahuludi dalam larutan fungsida. Jika di bandingkan
dengan media lain, pemberian fungsida pada media sabut kelapa harus lebih sering
dilakukan karena sifatnya yang mudah lapuk sehingga mudah ditumbuhi jamur.
Kelebihan sabut kelapa sebagai media tanam lebih dikarenakan
karakteristiknya yang mampu mengikat dan menyimpan air dengan kuat, sesuai
untuk daerah panas, dan mengandung unsur-unsur hara esensial, seperti kalsium
(Ca), magnesium (Mg), natrium (N), dan fosfor (P).
8. Humus
Humus
dalah segala macam hasil pelapuka bahan organik oleh jasad mikro dan merupakan
sumber energi jasad mikro tersebut. Bahan-bahan organik tersebut bisa berupa
jaringan asli tumbuh-tumbuhan atau binatang mati yang belum lapuk. Biasanya,
humus berwarna gelap dan dijumpai terutama pada lapisan atas tanah (topsoil).
Humus
sangat membantu dalam proses penggemburan tanah
dan memilki kemampuan daya tukar ion yang tinggi sehingga bisa menyimpan
unsur hara, dan dapat menunjang kesuburan tanah. Namun, media tanam ini mudah
ditumbuhi jamur, terlebih jika terjadi
perubahan suhu, kelembapan dan aerasi yang ekstrim. Humus juga memiliki tingkat
porousitas yang rendah sehingga akar tanaman tidak mampu menyerap air. Dengan
demikian, sebaiknya penggunaan humus sebagai media tanam perlu ditambahkan
media lain yang memiliki prousitas tinggi, misalnya tanah dan pasir.
B. Bahan Anorganik
Bahan
anorganik adalah bahan dengan kandungan unsur mineral tinggi yang berasal dari
proses pelapukan batuan induk di dalam bumi. Proses pelapukan tersebut di
akibatkan oleh berbagai hal, yaitu pelapukan secara fisik, biologi, mekanik dan
kimiawi.
Berdasarkan bentuk dan ukurannya, mineral yang berasal dari pelapukan
batuan induk dapat digolongkan menjadi 4 bentuk, yaitu krikil dan batu-batuan
(berukuran lebih dari 2 mm), pasir (berukuran 50 / -1 - 2 mm), debu (berukuran
2 - 50 u), dan tanah liat (berukuran kurang dari 2 ju ). Selain itu, bahan
anorganik juga bisa berasal sebagai sebagai bahan tanah yaitu gel, pasir,
kerikil, pecahan batu bata, spons, tanah liat, vermi kulit dan perlit
1. Gel
Gel
atau hidrogel adalah kristal-kristal polimer yang sering digunakan sebagai
media tanam bagi tanaman hidroponik. Penggunaan media jenis ini sangat praktis
dan efisien karena tidak perlu repot-repot untuk mengganti dengan yang baru,
menyiram, atau memupuk. Selain itu, media tanam ini juga memiliki
keanekaragaman warna sehingga
pemilihannya dapat disesuaikan dengan selera dan warna tanaman. Oleh karenanya,
hal tersebut akan menciptakan keindahan dan keasrian tanamn hias yans
diletakkan di ruang tamu atau ruang kerja.
Hampir
semua jenis tanaman hias indoor bisa di tanmam dengan media ini, misalnya
philodendron dan athurium. Namun, baik untuk tanaman hias berakar keras,
seperti adenium atau tanaman hias bonsai. Hal itu bukan dikarenakan ketidakmampuan
gel dalam memasok kebutuhan air, tetapi lebih di karenakan akar tanaman yang
mengeras sehingga bisa membuat vas pecah. Sebagian besar nurcery lebih memilih
gel sebagai pengganti tanah untuk pengangkutan tanaman dengan jarak jauh.
Tujuannya agar kelembapan tanaman tetap terjaga.
Keunggulan lain dari gel yaitu tetap cantik meskipun bersanding dengan
media lain. Di jepang gel digunakan sebagai komponen terarium bersama dengan
pasir. Gel yang berwarna warni dapat memberi kesan hidup pada tabnaman miniatur
tersebut.
2. Pasir
Pasir
sering digunakan sebagai media tanam alternatif untuk menggantikan fungsi
tanah. Sejauh ini, pasir dianggap memadai dan sesaui jika digunakan sebagai
media untuk penyemaian benih, pertunbuhan bibit tanaman, dan perakaran stek
batang tanaman. Siftanya yang cepat kering akan memudahkan proses akan
memudahakan proses pengangkatan bibit tanaman yang di anggap sudah cukup umur
untuk di pindahkan ke media lain. Sementara bobot pasir yang cukup berat akan mempermudah
tegaknya stek batang. Selain itu,
keunggulan media tanam pasir adalah kemudahandalam penggunaan dan dapat
meningkatkan sistem aerasi serta drainase media tanam. Pasir malang dan pasir
bangunan merupakan jenis pasir yang sering digunakan sebagai media tanam. Oleh
karena memiliki pori-pori berukuran besar (pori-pori makro) maka pasir menjadi
mudah basah dan mudah kering oleh proses penguapan. Kohesi dan konsistensi
(ketahanan tarhadap proses pemisahan) pasir sangat kecil.
Kok artikel nya kosong? Mohon diperbaiki trims
BalasHapus